Danur’s Blog

Just another WordPress.com weblog

ANTARA TAKDIR, CINTA, DAN BUS KOTA

……………………….Di Bus Kota, Takdir Memberiku Cinta
cinta bisa datang dengan berbagai cara dan dimana saja….juga di bus kota

Hari Ketujuh di bulan September, seperti biasa aku berangkat kuliah dengan menumpang bus PUSPA INDAH (bus yang kutumpangi selalu sama setiap harinya, karena setiap hari aku berangkat setiap jam 7 pagi tepat). Seperti biasa, aku duduk di bangku “permanen”ku, yakni bangku terbelakang di koridor kiri sebelum pintu belakang bus.
Pukul Tujuh Pagi. Bus Puspa Indah
Setelah duduk, kunikmati ritme bus yang sedang berjalan sembari kupejamkan mata. Di saat seperti itu, adalah waktuku untuk mengartikan mimpi-mimpiku di malam sebelumnya. Dan semalam, aku bermimpi bertemu seekor naga. Meski teman-temanku yang alim selalu menertawakan kebiasaan rutinku itu, tapi sembilan puluh persen prediksi akan arti mimpiku tersebut kebetulan tak pernah meleset. Dan kali ini, apabila harus kuanalogikan seekor naga dengan sesuatu, maka akan kutemukan sesuatu itu adalah jodoh. Berdasarkan pengetahuanku akan primbon juga literatur berupa wejangan mendiang nenekku dulu, apabila kita bermimpi bertemu seekor ular atau sejenisnya, maka niscaya jodoh kita berada di dekat kita. Jika ular itu dalam mimpi terlihat mengejar, berarti jodoh kita sedang mengejar kita. Dan jika ular dalam mimpi itu terlihat mengigit kita hingga berdarah, artinya jodoh itu sudah di tangan kita. Percaya atau tidak, aku selalu mempercayainya. Namun masalahnya kini, dimana jodohku itu?

12 Jam Kemudian (Pukul Tujuh Malam). Bus Puspa Indah.

Ray, ia baru saja pulang keluar dari kantornya di biro hukum HUTABARAT yang terletak di pinggiran kota. Setiap hari, notaris muda itu berangkat atau pulang kerja menggunakan jasa transportasi umum yaitu bus kota. Sama sepertiku, hanya berbeda waktu, secara kebetulan Ray juga selalu menumpangi bus PUPSA INDAH, namun untuk pulang saja. Mungkin ini yang disebut takdir, setiap menumpangi bus PUSPA INDAH, Ray juga duduk di bangku yang sama dengan aku saat kutumpangi bus itu untuk berangkat kuliah di pagi hari. Bedanya, semenit setelah duduk di bangku, Ray tak pernah mengartikan mimpi-mimpinya layaknya aku. Ia langsung menyandarkan pungungnya yang tegang dan kepalanya yang pening ke bangku sembari menghela nafas panjang untuk sejenak melepas lelah usai seharian bekerja. Dan malam itu, setelah membayar ongkos ke kenek, secara tak sengaja, ia melihat tulisan pena di kurung kulit bangku di bagian belakang bangku yang ada di depannya. Di sana, terdapat tulisan, “Dimanakah jodohku itu?” yang tak lain adalah tulisanku di pagi tadi sebelum aku turun dari bus. Melihat itu, Ray menyunggingkan tawa sebelum akhirnya ia menjawab pesan “tak sengaja” ku itu dengan kalimat, “Jodohmu ada di dalam takdirmu.”.

12 Jam Kemudian (Pukul Tujuh Pagi). Bus Pupsa Indah. “Jodohmu ada di dalam takdirmu? Siapa yang membalas tulisan konyolku ini? Dia pasti kurang kerjaan!”

Lalu kuambil pena, dan kutambahkan tulisan di bawah tulisan penjawab tulisanku yang misterius itu (Ray).

“Siapapun dirimu, apakah kau tahu kapan takdir akan menemukanku dengan jodohku?”

12 Jam Kemudian (Pukul Tujuh Malam). Bus Pupsa Indah.

Ray menjawab, “Bila jodohmu itu adalah aku, kau sudah menemukan jodohmu.”

“Hehehehehe. Aku bahkan tak mengenalmu. Mana mungkin kita bisa berjodoh.”

12 Jam Kemudian (Pukul Tujuh Malam). Bus Pupsa Indah.

Ray membalas, “Bukankah hal yang kita lakukan ini bisa disebut jodoh? Kita ditakdirkan saling bertukar pesan melalui hal aneh seperti ini.”

12 Jam Kemudian (Pukul Tujuh Pagi). Bus Pupsa Indah.

Membaca pesan Ray tersebut, aku teringat akan kalimat dalam novelku sendiri, KEBETULAN YANG TERJADI TANPA KITA MINTA BISA DISEBUT TAKDIR. Sejenak, kuucapkan kalimat SUBHANALLAH. Lalu kupejamkan mataku sembari kutuliskan pesan di kurung bangku di depanku yang semakin penuh itu, “Boleh kutahu, siapa namamu?”

“Ray Adiaksa. Dan kau?”

“Namaku Seruni. Berapa usiamu?”

Ray tak membalas pertanyaanku itu dengan tulisan angka usianya, karena saat hendak menulisnya, kenek bus langganan kami berdua menegurnya. Sontak, karena Ray masih ingin berkomunikasi denganku, dengan akalnya yang banyak, ia menuliskan nomor ponselnya ke secarik kertas. Kertas itui lalu ia lipat, dan kemudian di sisipkan ke himpitan kurung bangku dengan bangkunya. Dan keeseokan harinya, kutemukan kertas pesan Ray tersebut terjatuh di lantai dek bus. Usai membukanya, segera kuambil ponselku untuk lekas menghubunginya.

“Assalamu’alaikum. Benarkah kau Ray?”

“Waalaikumsalam. Akhirnya kau menemukan kertas itu. Ya, ini Ray.”

“Hai.”Aku sangat kikuk.

“Bagaimana harimu?”Ray tampak tenang. Suara dan sikapnya saat menelepon mencerminkan ia pria dewasa.

“Hariku baru saja dimulai. Aku baru tiba di depan rumah sakit. Ini hari sosialku. Aku akan mendonorkan darahku untuk PMI.”

“Sungguh mulia. Beruntung orang yang akan kau tolong dengan darahmu itu. Ia pasti memiliki takdir denganmu, sama antara kau denganku. Boleh kutahu apa golongan darahmu?”

“B Postif.”

“Itu golongan darahku. Golongan kita sama.”Ray memekik tawa.

“Sungguh kebetulan sempurna.”Sahutku girang.

“Ini tak seperti kebetulan. Ini seperti takdir.”

“Ray, kenapa kau sering menyebut kalau kita bertakdir?”

“Aku tak tahu. Ucapan itu muncul begitu saja. Seperti aku saat buang angin.”Jawab Ray dengan tertawa.

Dan aku hanya diam.

“Maaf. Maafkan aku!”Ray terdengar menyesal.

“Tak apa. Mungkin karena aku belum terlalu mengenalmu.”

“Jadi kau ingin lebih mengenalku? Dengan senang hati akan kukenalkan diriku padamu.”

“Bila kita bertakdir, aku akan bisa mengenalmu.”

“Tapi takdir tidaklah seru bila kau tunggu. Aku ingin sekali membuktikan takdir kita.”

“Maksudmu?”

“Kita adakan pertemuan.”

“Dimana?”

“Tempat dan waktunya kuserahkan padamu.”

“Baiklah. Di Taman Kota. Hari Minggu. Jam 4 sore.”

“Apa kau grogi?”

“Aku sangat grogi, Seruni?”

“Kenapa?”

“Karena……ARGHHHHHHHHH”

Sebuah prahoto besar melintas begitu cepat, menabrak tiga orang pria yang saat itu tengah menyeberang jalan raya. Satu di antara tiga pria tersebut adalah Ray.

BRAAAAAAAAAK

Setelah itu, semua berubah menjadi gelap, sampai kubuka kedua mataku. Kini, aku sudah duduk di bangku di bawah pohon beringin besar di tengah taman kota Mahaka karena hari ini adalah hari minggu pukul lima sore, waktu dimana aku dan Ray untuk bertemu menurut rencana kita. Aku tak tahu, apakah takdir sesuai dengan rencana itu karena kutahu takdir manusia tak satupun ada yang tahu kecuali Tuhan.

Taman Kota

Sudah hampir tiga jam aku menunggu Ray datang ke taman kota. Namun ia tak jua datang. Di ujung waktu, aku begitu marah dan kecewa hingga tak kuhiraukan buruknya alam sore itu. Aku terus duduk di atas bangku menunggunya. Sekujur tubuhku sudah kaku dan kedinginan karena terus diguyur hujan yang deras berjatuhan. Gejolak amarah, kesal, dan kecewa yang berkolaborasi kaku di dalam dada, ditambah tajamnya jatuhan air hujan yang terum menghujam di ubun-ubun kepala juga pundak, pun lama kelamaan membuatku muak untuk bersabar. Aku adalah manusia yang akan lelah bila lama menunggu tanpa kepastian yang nyata. Ketika kuingat cara dan lama kami berkenalan, akupun tertawa karena ku begitu bodoh bila aku harus menunggunya sosok fiksi seperti dia. Jika ia sangat percaya dengan takdir, maka sore itu aku meragukan kalau kita berdua bertakdir.

“Auhhhhhh! Selamat Tinggal Ray Adiaksa. Selamat Tinggal Kebodohanku!”Kubuang kotak hitam menyerupai kado yang isinya adalah buku kumpulan cerpenku yang niatnya akan kuberikan kepada Ray setelah kami bertemu itu ke danau yang ada di depanku.

Setelah itu, aku berlari ke jalan raya. Di sana, aku melihat bus kota yang biasa aku dan Ray tumpangi, berhenti menunggu penumpang di halte taman kota. Ketika kulihat waktu di arloji, saat ini menandakan pukul tujuh malam. Pantas jika bus itu beroperasi di jalur yang menuju arah rumahku karena kutahu di saat seperti inilah Ray biasanya pulang kantor di hari senin hingga jumat, tak di hari Minggu seperti sekarang. Namun, untuk apa lagi aku memikirkan pria fiksi pengingkar janji seperti dia. Dan untuk apa lagi aku harus menumpang bus penuh kenangan antara aku dengan dia. Bila kutumpangi bus itu lagi, aku hanya akan melihat kebodohanku yang terprasasti di kurung bangku yang dipenuhi kumpulan pesan antara aku dengannya. Tidak, sepuluh Malaikat akan menertawakanku bila kulakuan itu. Maka, malam itu, kupilih taksi yang melintas pelan di depanku. Dengan bercurai air mata, aku meminta sang sopir taksi untuk menjalankan taksinya lebih cepat karena aku tak ingin bus penuh kenangan itu melintas beberangen dengan taksiku. Biarlah Ray dan bus PUSPA INDAH itu menjadi kekonyolan masa lalu. Lalu, waktu bergerak begitu cepat ke empat bulan kemudian.

Empat Bulan Kemudian

Malam itu, aku baru keluar dari markas PMI di kota Mahaka, usai mendonorkan darah. Melihat kekejian bangsa Zionis di jalur Gaza Palestina, sontak hatiku menangis perih karena tak kuasa melihat penderitaan bangsa Palestina di sana. Demonstrasi, dan berbagai cara peluapan amarah menentang kekejian Israel terhadap Palestina sudah lelah kulakukan tanpa hasil yang optimal. Kini, dengan cairan bernama darah, aku ingin membantu penduduk Palestina yang menderita di sana. Semoga doa di akhir shalatku untuk mereka terbawa melalui cairan berwarna merah yang penuh rasa keikhlasanku tersebut.

Amien.

Keluar dari rumah sakit, aku langsung bergerak menuju halte bus kota. Setibanya di sana, kulihat seorang pria berusia tiga puluh tahun duduk di sudut bangku halte seorang diri. Saat kuamati secara seksama, pria yang malam itu memakai setelan jas berwana hitam itu hanya memiliki satu tangan (tangan kiri) saja. Masya’ Allah (Ucapku saat melihat wajahnya yang sangat tampan). Di pangkuannya kini, ada sebuah buku tulis yang sedang ditulisinya. Aku tak tahu apa yang coba ditulisnya berulang-ulang hingga habis berlembar-lembar di sana. Melihat ekspresinya saat menulis, ia seperti seorang bocah TK yang kesulitan menulis huruf alfabet. Mungkinkah ia sedang mencoba menulis huruf dengan benar, dengan menggunakan tangan kirinya? Jika ya, berarti pria itu baru saja kehilangan tangan kanannya. Dan jawan itu kudapatkan saat aku duduk di sebelahnya.

“Tuan, apa yang kau lakukan?”

Pria itu langsung menolehku. Ia tersenyum ramah. “Ouh. Saya sedang belajar menulis dengan tangan kiri saya.”

“Oh.”Aku langsung merasa sangat bersalah menanyakan hal itu.

“Untuk orang cacat baru seperti saya, tentu ini adalah hal yang sulit.”Tambah pria itu sembari terus berusaha menulis kalimat “Dimana kau?” di buku tulisnya.

“Anda tak boleh berkata seperti itu. Tuhan tentu memiliki rencana sendiri untuk Anda. Ehm, kalau boleh saya tanya, kenapa Anda hanya menulis kalimat “Dimana kau?” di buku Tuan?”Tanyaku yang begitu lancang.

“Karena aku sedang mencari seseorang.”

“Mencari seseorang melalui tulisan?”

Pria itu tertawa sembari berdiri dari duduknya, lalu melangkah ke tepi jalan raya. “Karena dari tulisan, aku mengenalnya. Dan saat ia menghilang, dengan apa lagi aku harus mencarinya, kalau tidak dengan tulisan?”

Sontak, mataku nyalang bebarengan dengan terdengarnya kumandang adzan Isya’.

“Tu…Tuan!”Panggilku lirih ke pria itu yang segera membalikkan badannya.

“Nona, kau kenapa?”

“Heh?”Mendadak pandanganku bunar. Kepalaku rasanya berat. Nafasku lemah memburu. Dan perutku mual terasa ingin muntah.

“Nona, apa kau baik-baik saja?”

“Tuan. Saya…..”Sahutku terbata-bata, sebelum akhirnya aku pingsan.

“Nona. Apa yang terjadi padamu? Ya Allah.”Pria itu panik di dekatku.

Ia lalu berlari ke arah belakang halte untuk melihat apakah markas PMI masih buka. Dan ternyata tempat yang kudatangi sore tadi itu sudah tertutup rapat. Begitu juga dengan ruko-ruko di sekitarnya. Kontan, melihat lingkungan di sekitar halte yang sunyi senyap, pria yang bersamaku itu pun kebingungan. Ia seperti seorang suami yang melihat isterinya akan melahirkan.

“Ya Allah, hamba harus bagaimana?”

Dan Tuhan pun mengirimkan bantuannya sekaligus takdir kami berdua yang tertunda. Dialah Bus Kota Puspa Indah.

“Berhenti. Berhenti.”Pria itu berlari ke tepi jalan untuk menghentikan bus kota Puspa Indah untuk meminta pertolongan.

“Kau kenapa, Tuan?”Tanya sang kenek bus, saat bus itu berhenti juga menepi di depan halte.

“Tolong! Tolong bantu aku membawa gadis itu ke dalam bus! Dan antar kami ke rumah sakit!”

“Memangnya gadis itu kenapa?”

“Aku tak tahu. Kami baru bertemu. Saat berbincang, tiba-tiba ia pingsan.”

“Ehm, mungkin ia kekurangan darah.”Sang kenek bus itu memperhatikan perban yang berselotip di pergelangan tanganku. “Ia baru saja mendonorkan darahnya, Tuan.”

“Aku rasa begitu! Ayo, cepat, bantu aku membawanya masuk ke dalam bus.”

“Ya.”

Pria itu yang ternyata adalah Ray, bersama kenek bus Pupsa Indah, pun membawaku yang tergolek tak sadarkan diri ke bus kota Puspa Indah, yang merupakan tempat dimana takdir membuatku mengenal Ray Adiaksa, pria yang menolongku saat ini.

“Nah. Sebaiknya anda jaga Nona Muda ini di bangku favorit anda saat pulang kerja.”Kenek bus itu menyuruh Ray dan aku duduk di bangku yang biasa aku atau Ray duduki saat menumpang bus tersebut.

“Ya.”Ray sebentar tertawa sembari melihat kurung bangku di depannya yang dipenuhi tulisan pesan barunya, Dimana Kau? itu.

“Kenapa aku selalu duduk di bangku ini? Andai dulu aku bisa menemuimu, Seruni, mungkin saat ini kita berdua lah yang duduk di bangku ini (ucap Ray saat memejamkan mata). Namun takdir berkata tidak, saat ini aku duduk dengan gadis yang sama sekali tak kukenal dalam keadaan pingsan. Ya Allah, siapa gadis ini?”

Tiba-tiba, aku yang duduk di bangku sebelah kirinya Ray, menggigit jari telunjuknya yang sebelumnya memegang wajahku karena tangan kirinya harus menyangga kepalaku.

“Ohhhh!”Eluh Ray kesakitan. Ia mendapati jari telunjuknya sudah masuk ke dalam mulutku, dan sudah tergigit kuat oleh gigiku.

Anehnya Ray membiarkanku mengigit jari telunjuk Ray hingga berdarah. Dan tanpa sadar, darah pria itu masuk ke dalam kerongonganku, lalu bersatu dengan darahku di pembuluh darahku. Beberapa menit kemudian, ketika bus kota itu bergerak mendekati kompleks asrama tempatku tinggal, Tuhan membangunkanku dari pingsan.

“Eh. Eh. Masya’ Allah? Apa yang kau lakukan?”Teriakku sembari mendorong wajah Ray yang saat aku bangun, ia menatapku sayu.

“Kau…kau…kau sudah bangun?”Ray tampak girang sekaligus salah tingkah.

“Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa bersamamu? Di tempat ini pula?”

“Tenang. Tenangkan dirimu, Nona! Kau tadi pingsan saat bersamaku di halte. Karena tak tahu harus membawamu kemana, terpaksa aku membawamu ke rumah sakit dengan bus kota ini.”

“Pingsan? Aku tadi pingsan?”

“Ya. Kau tadi pingsan.”

“Kenapa aku bisa pingsan?”

“Entahlah. Mungkin…mungkin karena kau baru saja mendonorkan darahmu.”

“Bagaimana kau tahu kalau aku baru mendonorkan darahku?”

“Karena kau sangat lahap meminum darahku. Itu artinya, kau kekurangan darah.”Ledek Ray sembari tertawa lirih dan membuang muka.

Aku pun langsung diam. Malu.

Namun, ketika kutatap ke depan, aku melihat kurung bangku yang menjadi prasasti kekonyolanku dengan Ray (saat itu aku belum tahu kalau pria yang bersamaku saat ini adalah Ray) di masa lalu.

“Arghhhhh. Kenapa aku harus berada di tempat ini? Dan anda, kenapa anda membawaku naik ke bus keramat ini?”Segera aku beranjak dari bangku, lalu berjalan melalui Ray.

“Nona, kau mau kemana?”Ray memegang pergelangan tangaku dengan tangan kirinya.

“Turun! Aku tak mau naik bus keramat ini. Pak Sopir, berhenti! STOP!”

Sopir bus itu pun mengerem lalu menghentikan busnya secara mendadak.

“Terimakasih.”

“Bus keramat?”Sindir kenek bus yang berdiri di depanku, menghalang jalanku menuju pintu.

“Ya.”

“Baiklah. Silahkan pergi!”

“Tentu saja.”Sahutku sembari menengok Ray yang tampak khawatir di belakang.

“Nona, kau mau kemana? Kau bisa pingsan di pinggir jalan.”

“Tuan, kau jangan takut. Setidaknya pinggir jalan itu di depan flat asramaku.”

“Flat asramamu?”Ray tampak bingung sembari melihat deretan flat asrama bertingkat lima yang berjajar kokoh di sepanjang jalan raya.

“Aku sudah sampai di tempat tinggalku, Tuan. Terimakasih telah menolongku. Dan untuk darahmu, bila kita berjodoh, aku akan menggantinya.”Teriaku keras sembari lekas turun dari bus kota lalu berlari memasuki pekarangan Flat Asrama Putri PRAMESWARI.

“Dasar. Dasar gadis aneh. Sudah ditolong, bukannya terimakasih, eh malah kabur seperti melihat setan.”Gerutu Kenek bus PUSPA INDAH sembari tertawa terkekeh di pintu belakang.

Sementara itu, sendiri, Ray tersenyum sembari memejamkan matanya untuk mengingat kalimat yang baru kuucapkan padanya.

“Dia akan mengganti darahku bila kita berjodoh? Dia mengingatkanku padamu, Seruni. Dimana kau?”

Ray lalu membuka kedua matanya dan memandang kurung bangku di depannya (Prasasti pesan antara dia denganku dulu, hingga sekarang). “Seruni, mungkinkah kita juga berjodoh?”Tanya Ray sembari menempelkan ujung jari telunjuknya yang masih berdarah, usai aku gigit dan kuhisap darahnya itu hingga membentuk nodah seperti stempel di pesan terakhirnya yang tertulis di kurung bangku.

Keesokan Harinya. Hari Minggu Pagi.

Di ruang makan, aku duduk menghadap sarapanku yang tak biasa di atas meja. Seporsi daging steak, seporsi sayuran hijau rebus, dan sepiring nasi merah. Melihatnya saja aku ingin pingsan lagi karena takut membayangkan angka di timbangan nanti setelah sarapan. Namun ketika kulihat tayangan televisi yang menayangkan evakuasi korban yang terus berjatuhan di tragedi Palestina, aku sangat malu jika harus berpikir panjang tentang makanan, jika di Palestina sana banyak manusia yang menderita. Maka, segeralah kulahap habis semua menu sarapanku tersebut sembari tak henti-hentinya aku menangis, dan memanjatkan doa agar penduduk Palestina di sana bisa memakan makanan sepertiku.

Kringgggg.

“Halo? Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Seruni, apa ibu mengganggumu?”

“Tidak. Ibu Alisa, ada apa?”Tanyaku kepada dokter yang menjadi ketua PMI di Mahaka. Kukenal beliau sudah lama sejak aku ikut kegiatan donor darah.

“Seruni, apakah kau ingat apa yang ibu ceritakan tentang seorang pria yang kecelakaan empat bulan silam?”

“Pria yang mana maksud Ibu?”

“Itu lho pria yang kecelakaan di hari kau mendonorkan darah. Saat itu, Ibu sempat berbicara ke kamu, kalau kalian seperti berjodoh. Di saat cadangan darah golongan B positif habis di PMI, di saat itu pula kau mendonorkan darahmu, dan di saat itu pula pria itu membutuhkan darahmu.”

“Masya’ Allah. Pria yang itu? Maaf. Saya lupa. Karena ‘kan saya tak pernah bertemu dengan pria itu, Bu.”

“Ya. Meski kalian tak pernah bertemu, namun darah kalian bertemu.”

Sejenak, aku terdiam. Lalu,

“Lalu, apa hubungannya dengan telepon Ibu pagi ini?”

“Begini lho Seruni, seminggu yang lalu, sebelum Ibu berangkat ke Papua, Ibu bertemu dengan pria itu lagi. Dia datang ke markas PMI untuk mencarimu, untuk berterimah kasih. Karena Ibu terlalu sibuk, salam darinya untukmu itu lupa. Dan baru ingat sekarang.”

“Oh. Hanya itu saja?”

“Tidak.”

“Tidak?”

“Ya. Seruni, Ibu tidak lupa akan ceritamu tentang pria fiksi yang kau kenal empat bulan silam melalui pesan di kurung bangku bus kota. Kau sebutkan bahwa kalian bertemu di hari Minggu, dua hari setelah pembicaraan pertama sekaligus terakhir kalian di telepon. Apakah tak pernah kau fikirkan, alasan kenapa ia tak bisa datang menemuimu di taman kota pada hari Minggu itu?”

Aku diam seribu bahasa.

“I….I…Ibu, apa maksud ibu itu?”

“Kau tinggal pikirkan lalu jawab saja. Apa alasannya menurutmu, kenapa ia tak datang menemuimu di taman kota pada hari Minggu itu?”

“Ehmm, mung…mungkin…karena ia hanya ingin mempermainkanku. Menipuku.”

“Apakah ada alasan yang mungkin lagi?”

“Mungkin ia mengalami kecelakaan seperti pria yang membutuhkan darahku itu? Tapi, tapi itu……”

“Tapi apa?”

“Masya’ Allah.”Teriakku sembari beranjak dari bangku dan mencengangkan mata. “Ibu, apakah maksud ibu mungkin saja pria yang kukenal lewat pesan di kurung bangku bus kota dulu, mengalami kecelakaan sebelum tiba di taman kota untuk menemuiku?”

“Kau sendiri yang mengatakan itu..”

“Ya Allah!”Aku mulai menangis. “Ibu, kenapa saya tak pernah memikirkan hal itu? Kenapa hanya prasangka negatif tentangnya karena tak datang menemui saya di taman kota? Saya akan berdosa jika itu benar-benar terjadi.”

“Seruni, kau telah berdosa karena itu benar-benar terjadi.”

“Apa maksud Ibu yang sebenarnya?”

“Siapa nama pria yang akan kau temui di taman kota dulu?”

“Ray. Ray Adiaksa.”

“Lalu kau dulu pernah bercerita padaku, saat di pembicaraan telepon, kalian sempat berbicara tentang golongan darah. Apa golongan darahnya?”

“Golongan darahnya…..B Positif. Sama sepertiku.”

“Apa kau tahu, pria yang mencarimu untuk berterimakasih kepadamu bernama Ray Adiaksa? Lalu menurutmu apa golongan darahnya hingga ia berterimakasih karena kau telah mendonorkan darah untuknya? Dan apa yang dialaminya empat bulan silam hingga ia kini hanya punya satu tangan?”

“Masya’ Allah.”Kusandarkan diriku ke sudut tembok. Lalu kujatuhkan diriku dengan memelorotkan sandaranku. Di sana, aku menangis sembari mencecar wajahku. “Ya Allah, hamba telah berdosa kepadanya.”

“Seruni, jangan kau sesali kesalahanmu. Perbaikilah sebelum terlambat. Carilah dia! Karena kutahu, meski kalian tak pernah bertemu, aku melihat ada cinta di matamu untuknya. Kalian memiliki takdir. Jangan lagi tunda takdir kalian!”

“Heh?”Lenguhku sembari kuseka air mataku dan berusaha bangkit dari rasa penyesalan.

“Bangun! Cari. Carilah dia! Carilah takdirmu itu. Dia pasti juga terus mencarimu.”

“Ya. Ya. Ya, Bu.”

Kulempar teleponku ke sofa. Kuambil jaketku, lalu aku keluar flat asrama, dan berlarian di jalan raya menuju halte bus seperti orang gila. Aku tak mempedulikan penampilanku yang hanya mengenakan piama, dengan rambut tergerai tak tersisir, dan wajah kusam karena belum cuci muka. Yang kupikirkan, kapas bus kota Puspa Indah yang aku duga masih sering ditumpangi Ray untuk mencariku, dengan menulis pesan di kurung bangku itu datang. Sembari menunggu, aku terus berjalan mondar-mandir sembari menangis menyesal, tanpa mempedulikan orang yang berolah raga di sekitarku menertawakan dan menggunjingkanku.

Dan Pukul tujuh pagi itu pun tiba.

Bus Kota Puspa Indah berhenti di halte tempatku berdiri sekarang. Tanpa menunggu lama, aku langsung merangsek masuk melalui pintu depan bus, karena banyak penumpang yang turun di pintu belakang. Itu kenapa aku tak tahu Ray pagi itu turun dari bus tersebut melalui pintu belakang.

Tiba di dalam bus, aku langsung berjalan cepat menuju barisan bangku paling belakang. Di dua bangku yang biasa dulu aku juga Ray duduki, sedang diduduki seorang wanita tua yang sedang memangku keranjang berisi sayuran. Tanpa permisi, aku yang masih berdiri, mengambil keranjang sayuran wanita tua itu, lalu membaca pesan-pesan yang ternyata sudah banyak ditulis Ray tanpa sepengetahuanku. Anehnya, semua pesan baru dari Ray itu tulisan/hurufnya lebih buruk/jelek dari tulisannya dulu. Dan semua tulisan pesannya itu hanya satu jenis kalimat, “Dimanakah kau?”.

“Masya’ Allah? Dia?”Ingatanku langsung tertuju pada pria yang memiliki satu tangan, yang duduk seorang diri di halte depan markas PMI, dan yang telah menolongku di saat aku pingsan. “Ternyata Kau telah mempertemukan kami berdua, tapi kami berdua yang tak menyadarinya. Aku telah meragukan TakdirMu.”

Lalu, tiba-tiba kenek bus yang dulu kumarahi menepuk pundakku dari belakang.

“He. Nona? Apa yang kau lakukan di sini?”Tanyanya.

“Heh?”Kubalikkan tubuhku. “Dimana? Dimana pria yang dulu menolongku saat aku pingsan? Di mana pria yang sering menulis pesan-pesan di kurung bangku itu? Katakan! Di mana dia?”

“Pria itu? Dia baru saja turun di halte, dimana kau naik tadi.”

“Hoh?”Aku menengok halte depan asramaku yang sudah terlalui jauh.

“Pak Sopir. Berhentiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii”

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT. Sopir bus itu untuk kedua kalinya menurutiku. Bus kota itu pun berhenti.

“Terimakasih.”teriakku ke sopir bus. “Terimakasih.”Kukecup pipi kenek bus yang ada di depanku itu, sebelum aku turun.

“Dia menciumku?”Ucap kenek bus itu dengan sangat girang.

>>>>>

Turun di jalan beraspal, meski kakiku tak bersandal, aku terus berlari menemui Ray yang menurut kenek bus itu turun di halte depan asramaku. Sekitar lima menit berlari, akhirnya aku pun tiba di halte depan asramaku. Namun apa yang kudapati di sana, dua ekor anjing yang sedang berkencan. Tak satupun ada manusia di sana.

Tak mau dikecewakan nasib, aku berlarian mengelilingi area sekitar halte juga taman depan asramaku untuk mencari Ray. Namun, sepuluh menit kulakukan itu hingga nafasku terasa sudah habis karena aku sangat lelah, tak jua kutemukan Ray di sana. Dengan hati kecewa dan juga marah, aku yang sedang berdiri di tengah jalan raya, membuka kedua tanganku sembari menengadahkan wajahku menengok langit, lalu berteriak, “ARRGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHH”

“Nona, apa kau sudah gila?”Tegur seorang pengemis yang berdiri di depanku.

“Ya. Aku sudah gila. Aku gila karena cinta.”Teriakku ke pengemis itu.

Aku lalu berlari kembali masuk ke dalam asrama, dengan bercucuran air mata.

“Kenapa nasib terus mempermainkanku. Bila aku dan dia bertakdir, kenapa takdir tak menginginkan kita bertemu?”Gerutuku saat menaiki tangga.

Sampai di depan pintu flat asramaku, aku kembali menjatuhkan diriku ke lantai dengan duduk menyiku. Kujatuhkan wajahku di atas kedua lututku untuk menyembunyikan tangisku. Semilir angin pagi yang berhembus dari arah balkon, membuat rambutku yang tergerai panjang berkibar. Perlahan, kesejukan angin itu membuatku merasa nyaman hingga aku tersadar bahwa ada gapaian tangan asing merangkulku dari samping kanan.

“Heeeeeeh.”Lenguhku panjang karena terkejut. Lalu, aku mengangkat wajahku dan kutoleh siapa seseorang yang duduk sepertiku, satu inci di samping kananku, sembari menjadikan tangan kirinya sebagai sandaran punggungku itu. Dan ternyata, pria itu adalah Ray Adiaksa.

“Apakah ini milikmu?”Ray menarik tangan kirinya dari tubuhku, lalu menunjukkan kalung berliontin huruf nama SERUNI, yang merupakan milikku. Mungkin, benda pemberian almarhumah ibuku itu tersangkut saat aku pingsan di bus kota kemarin.

“Ya. Ya.”Aku mengangguk-anggukan wajahku sembari menangis, tak mempercayai Tuhan mempertemukanku dengan Ray dalam jarak yang begitu dekat seperti saat ini.

“Jadi kau Seruni?”

“Ya. Aku Seruni.”

“Benarkah itu?”

“Ya.”

Ray tertawa lirih.

“Tidak. Tidak. Aku tak boleh begitu cepat menganggapmu adalah dia. Meski aku berharap kau adalah dia.”

“Apa maksudmu?”

“Aku menyangka kau adalah orang yang kucari.”

“Orang yang kau cari melalui tulisan-tulisan di kurung bangku bus kota itu?”

Petir menggelegar panjang.

“Ya.”Ray langsung menolehku. Kulihat sepasang matanya sudah berkaca-kaca. Dan kudengar nafasnya sudah memburu lemah.

“Dimanakah kau? Dimanakah kau? Membaca pesan-pesan terakhirmu itu tanpa kubalas, hatiku seperti teriris-iris. Kenapa kau tak berteriak sekencang-kencangnya kepada dunia kalau kau mencariku? Aku telah berdosa kepadamu karena telah menganggapmu sebagai penipu. Kini, sepuluh Malaikat benar-benar sedang menertawakanku. Kudapatkan kau sebagai takdirku. Kita benar-benar dipertemukan oleh takdir.”

“Seruni?”

Aku tersenyum sembari menyeka air mata yang akan menetes di kedua pulupuk mata Ray. Setelah itu, kuraih jari telunjuk Ray yang semalam kugigit lalu kuhisap darahnya ketika aku pingsan.

“Melalui jenis darah ini (kubuka darah beku di bekas gigitanku di jari telunjuk Ray hingga darahnya kembali mengucur keluar), Tuhan memberikan petunjuknya kalau kita bertakdir. Dan sekarang, izinkan aku untuk menjadikanmu takdirku. Izinkan aku menjadi tak sekedar tangan kananmu.”

Ray lalu menjatuhkan keningnya ke keningku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku seperti dua orang yang akan berciuman. Setelah itu, ia menatapku tajam seraya berkata:

“Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu sedalam ini bila sebelumnya kita tak pernah bertemu? Bagaimana mungkin aku segila ini mencarimu bila sebelumnya tak pernah kulihat matamu? Tuhan, Kau telah memberiku takdir cinta dengan cara-Mu Sendiri. Sungguh berdosa bila aku mengingkari takdirku, yaitu kau, Seruni.”

Aku tersenyum sembari mengecup bibir Ray. Lalu, aku tak melihat cahaya selain sorot mata Ray ketika ia membalas ciumanku. Kami berciuman lama. Tak kugubris tetanggaku yang melintas menerwatakanku. Dan kegilaan kasmaran itu berhenti saat terdengar suara klakson bus yang berhenti di halte depan flat asrama.

“Ray?”

“Hmmm?”

“Mungkinkah itu bus kota Puspa Indah?”

“Tidak mungkin (Ray tertawa terkekeh). Belum satu jam aku menuruninya.”

“Kau benar.”Jawabku malu.

“Kenapa?”Tanya Ray lirih.

“Aku….aku..ingin kencan pertama kita di bangku belakang bus kota Puspa Indah, tempat dimana takdir memperkenalkan kita.”

Ray tertawa. “Kenapa pikiran kita sama?”

“Karena kita berjodoh.”

“Baiklah.”

Setelah itu, Ray kembali menciumku. Ia tak menghentikan ciumannya, sampai terdengar suara klakson Bus Pupsa Indah satu jam kemudian.
“Terimakasih, takdir, cinta, dan kau, bus kota.”

Selesai

March 7, 2009 - Posted by | Uncategorized

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: