Danur’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Pengaruh Kecepatan Pengadukan Dan Volume Pelarut Pada Kristalisasi Patchouli Alcohol Dengan Metode Distilasi Vakum

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam baik hayati maupun non-hayati. Sumberdaya alam hayati terlihat dengan melimpahnya macam-macam jenis flora yang tersebar di berbagai wilayah di seluruh pelosok tanah air. Dari sumber daya hayati ini selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri dan bahan perdagangan yang menghasilkan devisa negara  serta pendorong pertumbuhan ekonomi negara. Selain terkenal rempah-rempahnya, Indonesia juga terkenal dengan minyak  atsirinya.

Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil minyak atsiri. Di pasar perdagangan internasional, nilam diperdagangkan dalam bentuk minyak dan dikenal dengan nama Patchouli oil. Dari berbagai jenis minyak atsiri yang ada di Indonesia, minyak nilam menjadi primadona dan setiap tahun lebih dari 45% devisa negara yang dihasilkan dari minyak atsiri berasal dari minyak nilam dan sekitar 90% kebutuhan minyak nilam dunia berasal dari Indonesia (Santoso, 1990).

Aroma minyak nilam sangat khas, sehingga kerap dimanfaatkan orang sebagai pengikat (fiksatif) wangi pada parfum ataupun kosmetika. Minyak nilam merupakan unsur pengikat wangi terbaik pada parfum. Pasalnya, minyak ini memiliki daya lekat kuat, sehingga aroma wanginya tidak mudah hilang atau menguap. Keunggulan lainnya adalah dapat larut dengan alkohol dan dicampur dengan minyak esteris lain. Dibandingkan dengan minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman lain, minyak nilam paling diunggulkan keharumannya (www.beinews.com).

Minyak nilam dapat diperoleh dengan menyuling daun nilam kering menggunakan uap air sebagai cara penyulingan terbaik (Santoso, 1990). Minyak hasil penyulingan masih mengandung persenyawaan kompleks yang terbentuk dalam tumbuhan karena pengaruh air atau uap panas. Kandungan yang terdapat dalam minyak nilam meliputi, patchcouli alcohol (patchcouli camphor), eugenol, benzaldehyde, cinamic aldehyde, dan cadinene. Namun komponen yang paling menentukan mutu minyak nilam adalah patchouli alcohol karena merupakan penciri utama (Santoso, 1990).

Nilam yang semula diproduksi di Indonesia hanya menghasilkan minyak nilam kotor dengan rendemen minyak <3% dan kadar patchouli alcohol <32%, maka minyak nilam kotor atau crude patchouli oil yang diekspor dengan harga murah hendaknya dimurnikan (refinement) sendiri di Indonesia, kemudian diekspor langsung ke Eropa, USA, Jepang tanpa harus melalui Singapura dengan harga yang lebih mahal (Al-Jabri ,M 2007).

Selama ini petani nilam hanya mampu menghasilkan minyak nilam dengan kandungan patchouli alcohol 26–28%, sedangkan pabrik penyulingan dengan peralatan suling bahan baja anti karat mampu menghasilkan minyak nilam dengan kandungan patchouli alcohol 31–35% (Sarwono,1998). Padahal kandungan patchouli alcohol dalam minyak nilam dapat dimaksimalkan sampai 40–50% (Suyono, 2001).

Selain itu, dengan menggunakan distilasi fraksinasi pemurnian patchouli alcohol dari minyak nilam bisa mencapai sebesar 92%. Bahkan, pemurnian patchouli alcohol dengan menjadikan kristal pun sudah mampu dilakukan. Kristal patchouli alcohol dipasar perdagangan lebih mahal dibandingkan jika dalam bentuk minyaknya. Hal ini dikarenakan patchouli alcohol dalam bentuk kristal lebih terjaga mutunya nya dalam waktu yang lama dan tidak mudah rusak.

Berdasarkan latar belakang di atas maka diperlukan upaya lanjutan pada minyak nilam untuk meningkatkan kadar patchouli alcohol-nya. Tentunya dengan semakin tingginya kadar patchouli alcohol dari minyak nilam maka akan meningkatkan nilai jual dari minyak nilam.

May 16, 2010 Posted by | Uncategorized | 4 Comments

Gliserol Monooleat

Makanan merupakan kebutuhan manusia yang paling pokok. Kebutuhan masyarakat terhadap makanan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya populasi manusia. Kebutuhan manusia terhadap makanan semakin meningkatkan banyak kreativitas para ilmuwan dan ahli untuk menciptakan inovasi-inovasi baru khususnya dalam bidang pangan. Tidak heran apabila akhir-akhir ini banyak produk makanan yang ditawarkan  oleh para produsen.

Dari sekian banyak makanan yang ditawarkan tersebut beberapa dibuat dari lemak dan membutuhkan pengemulsi untuk membuat adonannya homogen. Salah satu zat pengemulsi yang dibutuhkan adalah gliserol monooleat (GMO).

Gliserol Monooleat dibuat dari reaksi antara gliserol dan asam oleat. Gliserol bisa didapatkan dari hasil olahan industri lain, seperti industri sabun dan minyak kelapa sawit (CPO). Gliserol yang berasal dari industri sabun merupakan produk samping yang disebut spent lye soap. Sedangkan salah satu produk hasil olahan CPO adalah biodiesel yang merupakan bahan bakar alternatif bagi kendaraan bermotor. Namun dalam proses produksinya industri biodiesel dari CPO menghasilkan hasil samping (crude) berupa gliserol dengan kemurnian rendah. Gliserol tersebut tentu saja perlu dimurnikan lagi karena masih bernilai ekonomi dan dapat digunakan untuk industri turunan gliserol contohnya Gliserol monooleat (GMO). Gliserol monooleat merupakan produk yang dikembangkan dari jenis monogliserida yang berfungsi sebagai bahan emollient dan emulsifier pada produk-produk kosmetika dan pangan.

Indonesia merupakan negara terbesar kedua penghasil CPO di dunia setelah Malaysia. Bahkan diperkirakan akan menjadi produsen CPO terbesar di dunia pada tahun 2012. Dengan demikian sumber bahan baku pembuatan gliserol monooleat ini banyak tersedia.

Di masa yang akan datang, industri berbasis CPO akan memiliki prospek yang sangat cerah. Karena pemanfaatannya yang beraneka ragam, mulai dari industri minyak goreng , sabun sampai menjadi bahan baku alternatif untuk bahan bakar atau biodiesel dan tentunya diharapkan akan banyak dipakai dalam industri gliserol monooleat nantinya.

May 16, 2010 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.